MediaRajaSultan – Pulau Kemaro adalah delta di Sungai Musi, berjarak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Ikon destinasi religi dan budaya ini menampilkan Pagoda 9 lantai, Klenteng Hok Tjing Rio, serta makam legenda cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah.

Cara Menuju ke Pulau Kemaro
Pulau ini dapat dicapai melalui beberapa cara:
- Perahu Ketek / Speedboat: Naik perahu dari Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) atau dermaga di dekat Jembatan Ampera. Perjalanan memakan waktu sekitar 15 hingga 30 menit dengan tarif bervariasi antara Rp50.000 hingga Rp70.000 per orang.
- Jalur Darat: Tersedia akses darat melalui Dermaga PT Pusri (kawasan pabrik).

Tips & Atraksi Utama
- Waktu Terbaik Berkunjung: Pulau ini menjadi pusat perayaan meriah saat Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, yang dipadati warga lokal maupun wisatawan.
- Legenda Pulau: Jangan lewatkan area Makam Siti Fatimah serta Pohon Cinta yang konon dapat memengaruhi hubungan asmara bagi pasangan yang mengunjunginya.
- Fasilitas: Untuk cek rencana kunjungan, Anda dapat melihat ulasan wisatawan di Tripadvisor atau mengecek informasi kebudayaannya melalui Kemenparekraf Wonderful Images.
Selintas Info Tentang Pulau Kemaro
Ditengah sungai Musi terdapat sebuah pulau Kemaro. Nama tersebut berarti pulau yang tidak pernah tergenang air walaupun air pasang besar pulau tersebut tidak akan kebanjiran dan akan terlihat dari kejauhan terapung-apung diatas sungai Musi.

Pulau ini mempunyai legenda tentang kisah cinta “Siti Fatimah Putri Raja Palembang yang dilamar oleh anak raja China bernama Tan Bun Ann”. Syarat yang diajukan Siti Fatimah pada Tan Bun Ann adalah menyediakan 9 guci berisi emas, keluarga Tan Bun Ann menerima syarat yang dianjurkan. Untuk menghindari bajak laut saat di perjalanan membawa emas dari negeri China maka emas yang di dalam guci tersebut ditutupi dengan asinan dan sayur, ketika kapal tersebut tiba di Palembang Tan Bun Ann memeriksa guci tersebut yang ditutupi asinan dan sayur, dengan rasa marah dan kecewa maka seluruh guci tersebut dibuangnya ke sungai musi tetapi pada guci yang terakhir terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan sehingga terlihatlah kepingan emas yang ada di dalam.

Rasa penyesalan membuat anak raja China tersebut mengambil keputusan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Melihat tersebut Siti Fatimah ikut menerjunkan diri ke sungai sambil berkata “jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini maka di situlah kuburan saya”.

Dipulau ini terdapat sebuah kelenteng Budha yang selalu dikunjungi penganutnya terutama pada perayaan Cap Go Meh yang tidak hanya masyarakat keturunan Tiong Hoa di kota Palembang tetapi dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara seperti Singapura, Hongkong, RRC dan lain-lain. Kita dapat ke pulau ini dengan menggunakan transportasi air seperti ketek, speed boat, kapal wisata Putri Kembang Dadar, Sigentar Alam dan perahu Naga dari dermaga wisata Benteng Kuto Besak (BKB)atau dari pabrik Intirub.

(**)


